sponsor

berita terkini

video panas

berita panas

cerita panas

mancanegara

Pilpres 2019

olahraga

teknologi

» » » » » » » » » » » » » Berita Panas Viral : Kronologi Wanita Bule Denmark Diperkosa WNI di Pulau Siberut, Mentawai, Sumatera Barat


Berita Panas Viral - Seorang perempuan warga Denmark menjadi korban pemerkosaan di daerah Siberut, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Padang, Sumatera Barat, Selasa (24/4/2018).

Hal ini tentu saja membuat geger warga dan langsung mendatangi TKP.

Kasus pemerkosaan wanita bule ini pun menjadi viral di media sosial.

Seorang Warga Negara Asing (WNA) wanita atau bule berinisial SL, (24) asal Denmark menjadi korban pemerkosaan pria bernama Parmianan Sababalat (24). Berdasarkan keterangan Kapolsek Siberut IPTU, Suriadi, kejadian naas yang menimpa bule tersebut diketahui, pada Selasa (24/4/2018), sekitar pukul 13.00 WIB.

Dimana saat itu korban sedang berjalan sendirian dari penginapan Surfcamp E-Bay, di Pulau Nyang-nyang, Desa Taileleu, Kecamatan Siberut Barat Daya, menuju salah satu Spot surfing di sekitar lokasi setempat. Namun, di tengah jalan ia dihadang oleh pelaku dan mengancam korban dengan kayu hingga menyeret korban ke semak-semak.

“Korban awalnya dicegat, dibujuk, tapi karena korban menolak, pelaku mengancam pakai kayu, dijambak, lalu diseret ke semak-semak,” terangnya, Kamis (26/4/2018).

Selanjutnya tersangka PS menyeret tangan korban ke dalam semak-semak sambil menarik rambut korban, di situ korban sempat menolaknya dan melakukan perlawanan serta memukul tersangka dengan sendalnya kemudian lari ke semak-semak untuk bersembunyi.

Namun, tersangka mengejar korban kembali dan berhasil mendapatkannya. “Kemudian tersangka menarik tangan korban dan merebahkan korban di semak-semak, lalu membuka paksa celana yang dipakai korban dan selanjutnya memperkosa bule cantik itu, tambahnya.


Teriakan minta tolong SL rupanya didengar masyarakat sekitar.

Mendengar teriakan korban, masyarakat lokal langsung menuju asal suara wanita tersebut.

"Saat sampai di lokasi semak-semak, warga pun mengamankan pelaku," ungkap Herit Syah.

Masyarakat kemudian melaporkan kejadian kepada anggota Polsek Muara Siberut.

Dengan menggunakan boat, aparat menjemput pelaku sekitar 19 km.

"Lokasi dari Polsek cukup jauh, sekitar 1,5 jam sampai dua jam perjalanan. Penjemputan dengan menggunakan boat," katanya.

Saat ini, jajaran Reskrim Polsek Muara Siberut masih melakukan pemeriksaan pada tersangka, korban, dan saksi.

Untuk korban, katanya, juga telah dilakukan visum.

"Saya masih menunggu laporan lengkap dari jajaran polses Muara Siberut. Yang jelas telah dilakukan visum," sebutnya.

Tersangka pelaku, tambah Herit Syah, akan dijerat dengan pasal tindak pidana pemerkosaan Pasal 285 KUHPidana, dengan ancaman kurungan 12 tahun penjara.

Kasus pidana ini baru kali ini terjadi. Jajaran akan berusaha mempercepat proses pemeriksaan.

"Tersangka pelaku saat ini sudah kami amankan di Mapolres Mentawai," tutupnya.

Sementara, Ketua Umum Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita), Asnawi Bahar, sangat terkejut dengan peristiwa ini. Asnawi berharap berita ini tidak viral karena akan mempengaruhi wisatawan asing ke Sumbar atau Indonesia secara umum. Namun harapan Asnawi itu sudah terlambat. Kasus ini telah menjadi santapan media nasional.

“Walau ini kasuistik namun efeknya akan buruk untuk pariwisata. Tidak hanya Sumbar, tapi juga Indonesia karena korbannya warga negara asing. Pemerintah mesti cepat tanggap dan merespon kasus ini segera agat tidak melebar dan viral,” terang Asnawi Bahar yang ketika dihubungi Haluan, Kamis (26/4/2018) tengah berada di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumbar untuk mendaftar sebagai calon anggota DPD RI.

Disinggung Asnawi, kasus yang terjadi sebenarnya menjadi bukti lemahnya pengawasan dan perlindungan yang diberikan kepada wisatawan asing. Padahal, keamanan merupakan faktor penting dalam dunia pariwisata.

“Saat rakor dengan Menko Maritim dan stakeholder terkait beberapa waktu lalu, Asita sudah menekankan betapa pentingnya keamanan dalam pengembangan wisatawan, terutama bagi wisatawan asing. Kontruksi keamanan mesti dipersiapkan dulu dengan matang jika memang Indonesia ingin menjadi negara yang nyaman bagi wisatawan. Hal ini semestinya juga dilakukan di Sumbar,” papar Asnawi.

Budaya para turis yang tidak cocok dengan budaya lokal, menurut Asnawi juga menjadi pemicu. Di Mentawai, para turis bebas saja berpakaian minim. Itu membuat penduduk lokal tidak nyaman, bahkan memantik mereka untuk berbuat di luar kendali.


“Semestinya setiap wisatawan itu diberikan panduan dan pemahaman agar menjaga etika, termasuk dalam berpakaian ketika berada di suatu daerah. Apalagi di Mentawai atau Sumbar, budayanya beda. Mungkin bagi turis yang datang, pakaian mereka biasa saja, tapi bagi penduduk lokal itu tak biasa, bahkan memancing mereka,” kata Asnawi.

Pemerintah daerah, menurut Asnawi mesti belajar dari kasus ini, dan lebih meningkatkan pengawasan dan perlindungan bagi wisatawan. “Memang mereka (wisatawan asing-red) masuk lewat Imigrasi, namun setelah itu lepas begitu saja. Semestinya mereka mendapatkan perlindungan dan pengawasan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Lagian, khusus Mentawai, setiap wisatawan asing yang datang itu membayar 1.00 dolar. Harusnya dengan membayar mereka dilindungi dengan baik. Semoga kasus ini jadi pelajaran bagi kita semua untuk kedepannya lebih baik. Asita tidak akan pernah bosan mengingatkan pemerintah untuk memperhatikan sisi keamanan bagi turis. Satu saja turis yang mendapatkan perlakuan tak baik, apalagi diperkosa, dampaknya akan luar biasa,” sebut Asnawi.

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply