sponsor

berita terkini

video panas

berita panas

cerita panas

mancanegara

Pilpres 2019

olahraga

teknologi

Pembunuhan Pekerja di Papua oleh Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata Diburu TNI-Polri

Berita Panas Pembantaian Papua - Kabar pembantaian puluhan pekerja di Kali Yigi dan Aurak, Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua, pada Minggu (2/12) membuat syok banyak pihak. Bagaimana tidak, pembantaian justru dilakukan terhadap para pekerja proyek yang sedang membantu pembangunan Papua.

Hingga kini, jumlah korban masing simpang siur. Awalnya ada yang menyebut 31 orang terbunuh, namun berdasarkan klarifikasi terakhir, delapan orang yang dikabarkan tewas setelah dijemput paksa para pelaku ternyata masih selamat.  Polisi dan TNI masih mencari kepastian soal jumlah korban. 

Motif pembantaian ini belum bisa disimpulkan. Kapolres Jaya Wijaya AKBP Yan Pieter Reba menyebut pembunuhan tersebut terjadi lantaran ada salah seorang pekerja proyek yang tidak sengaja mengambil foto kegiatan HUT Tentara pembebasan nasional organisasi Papua merdeka (TPN/OPM).  Hal tersebut membuat mereka marah sehingga mencari para pekerja proyek tersebut dan berakhir dengan pembunuhan terhadap korban.

Sementara Kapendam Cenderawasih XVII, Kolonel Inf Muhammad Aidi mengatakan, daerah tersebut termasuk daerah yang terisolasi selama ini dan dijadikan basis pergerakan oleh kelompok bersenjata. Ia menduga, mereka melancarkan aksi-aksinya karena di daerah tersebut dilakukan pembangunan jalan untuk membuka isolasi selama ini.

"Dengan adanya pembangunan jalan yang membuka isolasi tersebut, mungkin mereka merasa terusik dengan kehadiran TNI yang ada di tempat tersebut. Sehingga mereka melakukan aksi-aksi," tuturnya.


Ia juga menduga, hal tersebut merupakan salah satu motif dari pembunuhan terhadap puluhan pekerja di Distrik Yigi. Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB), kata dia, merasa perjuangannya dapat terhambat jika dilakukan pembangunan yang akan berdampak pada kesehahteraan masyarakat di sana.

"Semakin banyak masyarakat yang pro terhadap negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI), mereka merasa terhambat perjuangannya dan meneror masyarakat yang ada di sana," kata dia.

Aksi pembantaian ini terjadi di tengah momen penting bagi gerakan Papua merdeka. Setiap 1 Desember, kelompok pro kemerdekaan merayakan hari jadinya.

Bagi mereka, 1 Desember 1961 adalah hari kemerdekaan Papua Barat atas Belanda.

Pada momen tersebut, bendera Bintang Kejora dikibarkan. Sampai akhirnya terjadi penyerahan Papua ke Otoritas Eksekutif Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNTEA) yang berujung pada Pepera.

Pemerintah pun memilih menggunakan kata kelompok kriminal bersenjata dari pada gerakan atau Organisasi Papua Merdeka (OPM).  Aidi menyebut Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) yang dipimpin Egianus Kogoya bertangung jawab atas pembunuhan tersebut.

Di Surabaya, aksi peringatan hari kemerdekaan Papua berlangsung ricuh. Sejumlah  mahasiswa Papua terpaksa diamankan di kantor polisi untuk mencegah amukkan kelompok lain yang tak setuju dengan kegiatan mereka. 

Kronologi Pembantaian Pekerja di Papua

Kabid Humas Polda Papua, Komisaris Besar Polisi Ahmad Mustofa Kamal melalui keterangan tertulisnya menjelaskan kronologi peristiwa. Pada Sabtu (1/12) malam, Manajer Proyek jembatan Habema-Mugi bernama Cahyo, mendapat telepon dari nomor yang biasa dipegang oleh Jhoni, koordinator lapangan pembangunan jembatan.

"Namun, Cahyo tidak paham dengan maksud pembicaraan orang yang menelepon tersebut," kata Kamal, Senin (3/12).

Jhoni diketahui sedang melaksanakan pembangunan jembatan di Kali Aurak - Yigi, Nduga. Sementara, seorang pegawai Bina Marga bernama Monang Tobing melakukan komunikasi SMS dengan Jhoni pada tanggal 30 November 2018. Diduga, penelepon Cahyo tersebut adalah KKB yang menculik para pekerja.

Berdasarkan informasi pos Satgas Pamrahwan 755/Yalet di Napua-Wamena, pada 30 November 2018 pukul 04.00 WIT tercatat satu unit mobil Ran Strada dengan muatan BBM Solar milik PT Istaka Karya menuju Camp Istaka Karya di Distrik Yigi, Mobil itu membawa lima pegawai dan tiba kembali di Wamena pada pukul 18.30 WIT.

Selanjutnya, pada 1 Desember 2018 tercatat dua mobil menuju ke Camp Distrik Yigi dengan masing-masing membawa 15 orang pekerja proyek dari PT Istaka Karya. Pada 2 Desember 2018 malam, satu mobil Strada kembali ke Wamena dan pada Senin, 3 Desember 2018 satu mobil Strada kembali lajuran dari Wamena ke Distrik Mbua Kabupaten Nduga. "Dari informasi bahwa satu mobil Strada yang membawa 15 orang pekerja proyek dari PT Istaka Karya sampai saat ini belum kembali ke Wamena," jelas Kamal.

Mendapat informasi tersebut, personel gabungan Polri dan TNI bergerak dari Wamena menuju Distrik Yigi Kabupaten Nduga. Namun saat tiba di kilometer 46, tim bertemu dengan salah satu mobil dari arah Distrik Bua dan menyampaikan untuk tim segera balik karena jalan di blokir oleh Kelompok Kriminal Bersenjata.


Buru Pelaku KKSB

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Wiranto, telah berbicara kepada Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), Jenderal Tito Karnavian, dan Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto, untuk segera mengejar habis-habisan pelaku pembunuhan pekerja di Kabupaten Nduga, Papua. Menurutnya, pembunuhan tersebut merupakan aksi yang sangat biadab.

"Jadi tadi saya sudah bicara dengan Kapolri, Panglima TNI, untuk segera dilakukan pengejaran yang habis-habisan. Supaya apa? Supaya tak terulang lagi," ujar Wiranto di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Selasa (4/12).

Menurut Wiranto, pembunuhan terhadap para pekerja proyek Istaka Karya yang sedang membangun jembatan di Kali Yigi dan Aurak, Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua, merupakan suatu aksi amat biadab. Itu karena para pekerja tersebut tengah membangun infrastruktur berupa jembatan untuk kesejahteraan masyarakat di sana.

"Artinya apa? Artinya mereka sudah berbakti berjuang untuk kebaikan Papua, kebaikan masyarakat Papua. Lalu ditembakin, dibunuh gitu, ini tentu hal yang sangat tak terpuji," katanya.

Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) diduga menjadi pelaku pembunuhan tersebut. Wiranto pun mengaku tak habis pikir mengapa mereka membunuh orang-orang yang tengah membangun daerah mereka sendiri.

"Kecuali orang itu merampok, merampas, jahat dibunuh itu sesuatu yang wajar. Tapi itu orang yang sedang berbuat baik, yang berjasa untuk memakmurkan wilayah itu," jelasnya.

Ia meminta TNI-Polri untuk mengejar kelompok tersenut secara habis-habisan karena mereka terus berupaya untuk menakut-nakuti agar pembangunan tak berjalan. Hal yang, kata dia, justru mengganggu kepentingan masyarakat Papua itu sendiri. "Habis-habisan sampai ketemu, dikerahkan (pasukan)," ujar Wiranto.

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply